Apakah Akidah Harus Mengikuti Sanad?
APAKAH AKIDAH HARUS MENGIKUTI SANAD?
Materi Kajian Syaikh Saeed Foudah (Surabaya 14 Februari 2015)
Aba beberapa point yang beliau sampaikan kemarin, di antara garis besarnya adalah:
1. Apresiasi terhadap Nahdlatul Ulama yang secara tegas memilih praktek Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam tiga aspek berikut: Dalam akidah mengikuti Asy'ariyah dan Maturidiyah, dalam fikih mengikuti empat mazhab, dalam Tasawuf mengikuti model Imam Junaid dan al-Ghazali. Ini adalah pilihan yang tepat dan penuh barakah.
2. Orang yang mengira Abu Jahal dan musyrikin lain bertauhid secara rububiyah adalah orang yang tidak paham apa itu tauhid.
3. Dan lain-lain yang anda dapat simak sendiri rekamannya di link YouTube di bawah.
Namun selain beberapa poin di atas, ada poin yang sangat menarik dari paparan beliau, yakni ketika di sesi tanya jawab Kyai Ma'ruf bertanya perihal siapakah sanad keilmuan akidah Imam Asy'ari selain dari Imam Zakaria as-Saji?
Jawaban beliau barangkali tidak terpikirkan oleh banyak orang yang biasanya menyodorkan nama-nama. Namun Syaikh tidak menjawab seperti itu tapi justru menjelaskan posisi sanad dalam hal ilmu akidah. Inti jawabannya sebagai berikut yang saya ungkapkan dengan bahasa saya pribadi untuk lebih memudahkan:
A. Ilmu akidah tidak diambil dari sanad dari fulan dari fulan sebab akidah bukan ilmu riwayat. Berbeda dengan ilmu hadis atau tajwid yang harus ada sanadnya, ilmu akidah justru tidak boleh diambil dari sanad tetapi dari kesadaran diri yang didasarkan pada pemahaman terhadap al-Qur'an dan hadis sahih. Dalam akidah ada larangan untuk taklid (ikut-ikutan). Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang memerintahkan untuk berpikir tentang tentang Allah dan sifat-sifatnya, maka Asy'ariyah mengamalkan perintah berpikir itu lalu orang yang tidak paham bilang bahwa perintah untuk berpikir diambil dari Yunani.
Sebab itu, tidak boleh seseorang berkata bahwa Allah itu satu dengan alasan karena gurunya dari gurunya dari gurunya mengatakan demikian, tapi dia harus berpikir dan memahaminya hingga meyakini hal tersebut secara pribadi. al-Qur'an mengajarkan logika berpikir sederhana misalnya dalam firman Allah yang artinya: "Seandainya di langit dan bumi ada Tuhan selain Allah, tentu keduanya binasa". Itu artinya akidah bukan semata doktrin tapi pemahaman rasional.
B. Imam Asy'ari tidak mengambil akidahnya dari Imam Zakariya as-Saji (apalagi dari al-Jubba'i), beliau tidak bertaklid padanya dalam akidah. Ia juga tidak bertaklid pada Imam Ahmad atau siapa pun dalam hal akidah, meskipun ajaran beliau sama dengan para imam Ahlussunnah Wal Jama'ah sebelumnya. Imam Baihaqi berkata bahwa Imam Asy'ari tidak membuat mazhab baru tetapi melanjutkan para imam sebelumnya. Hanya saja harus dipahami bahwa beliau tidak bertaklid pada mereka tapi kesimpulannya sama dengan mereka.
Sebab itulah, Asy'ariyah juga tidak mengambil akidahnya dari Imam Asy'ari sendiri. Mereka hanya mengambil metode rasional yang diajarkan oleh Imam Asy'ari, meskipun dalam kesimpulannya dalam furu' (bahasan cabang) kemudian berbeda dengan beliau, itu tidak masalah. Sekali lagi, akidah hanya diambil dari kesadaran rasional berdasarkan Al-Qur'an dan hadis sahih. Karena itu para ulama kemudian mengikuti metode Imam Asy'ari dan tidak mempermasalahkan sanad.
C. Memahami akidah harusnya sama dengan memahami matematika atau ilmu teknik. Memang benar bahwa dasar-dasarnya didapat dari keterangan guru, namun setiap orang harus mengerti nalar ilmu dengan pemahamannya sendiri, bukan taklid pada guru. Sama seperti ketika gurunya mengajarkan matematika, tidak boleh seorang murid lantas berkata bahwa 2+2=4 karena gurunya mengatakan seperti itu namun ia harus memahaminya sendiri. Dalam hitungan yang lebih besar, ia harus menjawab sendiri jawabannya meski tidak dibahas oleh gurunya dan justru tidak tepat ketika ditanya apakah jawaban itu ada sanadnya dari gurunya? Seperti inilah logika akidah harus diajarkan sedini mungkin.
D. Pengharusan akidah harus memakai sanad adalah propaganda Wahabi sebab mereka tidak paham. Kalau memang semua pernyataan perlu sanad, maka silakan sebut sanad pernyataan Ibnu Taymiyah yang menetapkan hawadits la awwala laha? Mana juga sanad pernyataannya yang menetapkan sifat huduts pada Allah? Mana juga sanad pernyataan bahwa Dzat Allah punya batasan fisik? Tidak ada satu pun hadisnya. Semuanya hanya timbul dari imajinasinya sendiri.
Itulah beberapa poin penjelasan Syaikh Saeed yang saya susun ulang untuk lebih memudahkan. Pemaparan komplit dan aslinya dapat disimak dalam rekaman di link berikut:
ðŸâ€Â´ Ngaji Kitab Syarah Al - Hikam Pertemuan Ke-115 & Jalsah Ilmiyah bersama Syeikh Saeed Fudah
https://www.youtube.com/live/xk9imlG_icU?si=XwWlruEO7osNQBbV
Semoga bermanfaat.
Sumber FB Ustadz : Abdul Wahab Ahmad